Senin, 30 Agustus 2010

hdd

Pacaran menurut beberapa orang mengatakan adalah sebuah hubungan romantis atau suatu hubungan hasil kombinasi antara passion, komitmen dan intimasi (perasaan kedekatan secara fisik dan emosional). Hubungan pacaran berarti tahap untuk saling mengenal antara seorang pemuda dan pemudi yang saling tertarik dan berniat untuk mengadakan hubungan yang eksklusif (terpisah, sendiri, istimewa). Dengan pengertian itu, berarti pacaran memang diarahkan untuk suatu hubungan yang lebih lanjut, lebih dalam, dan lebih pribadi lagi. Ini tidak boleh diartikan sebagai keharusan untuk melanjutkan. Pacaran dimaksudkan sebagai situasi yang memungkinkan pasangan yang berelasi semakin dekat dan akhirnya menemukan kecocokan satu sama lain untuk melanjutkan hidup bersama dalam suatu hubungan resmi, baik pertunangan maupun perkawinan. Lalu yang menjadi pertanyaaan adalah apakah harus ada pacaran sebelum nikah??? Sebagai manusia memang sudah fitrashnya menyukai lawan jenis, apalagi usia sekolah baik tingkat SMP/SMU, Namanya juga sedang puber dan memang fitrahnya seorang seneng sama lawan jenis, maka cinta selalu jadi atribut mengasyikkan bagi kehidupan remaja seperti mereka. Saat diri sendiri merasa nggak dipahami orang lain, maka lawan jenis selalu menjadi tempat asyik untuk curhat. Jadilah sepasang lain jenis berpacaran.
Tapi ingat..Bukannya asyik, pacaran malah full ancaman. Alloh Ta’ala memerintahkan menahan pandangan dari lawan jenis, orang pacaran malah saling pandang. Jadinya nggak patuh sama Alloh, kan? Belum masalah sentuh-menyentuh, yang kata Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam lebih baik kepala ditusuk paku besi daripada menyentuh wanita non mahram. Kalo menyentuh dah boleh-boleh aja, gimana nggak meningkat ke yang lebih ngeri? Kalo udah gini, siapa nyang rugi? Kalo nggak tobat, bisa saja rugi akhirat.  Firman ALLAH :

(Annur ayat 21)

Pada ayat lain Allah berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti
langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu
menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang
mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan
rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak
seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan
keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah
membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan memelihara
kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke
dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya,
kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau
putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara
laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki
mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka,
atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka
miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak
yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan
janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah
kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang
beriman supaya kamu beruntung. belikan hadiah pacarnya, membeli pulsa, mentraktir,
 nontonFilm, dan yang lainnya.

 8. Akan menyebabkan terlambatnya studi. Banyak fakta yang menyebutkan
   bahwa menurunnya prosentase kelulusan para pelajar adalah akibat
   pacaran, mereka jarang belajar, karena jalan-jalan terus dengan
   pacarnya, tidak pernah beli buku karena uangnya habis untuk pacaran.

 9. dan dampak negatif lainnya (silahkan ditambahkan lewat ‘coment’)
 “Barang siapa yang jatuh cinta, lalu tetap menjaga kesucian dirinnya, menyembunyikan rasa
 cintanya dan bersabar hingga mati maka dia mati syahid.” Sungguh sangat beruntung 
orangyang mencintai dengan kesucian diri dan berlindung dari godaan syatan yang terkutuk.
 Tentunnya orang yang menjaga cintannya yang suci hingga ia meninggal
 dunia. Rasullulah SAW juga berpesan;

 “Cintailah sesuatu itu dengan biasa-biasa saja, karena boleh jadi
 suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatu yang kamu benci,
 dan bencilah sesuatu yang tidak kamu ketahui dengan biasa-biasa saja.
 karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatu
 yang kamu cintai (H.R. Bukhari, Abu Daud, Tirmizi, dan Ibnu Majah,
 dari Abu Hurairah):

itualah beberapa dampak negatif dari pacaran dan tentunya masih
banyak lagi dampak-dampak negatif lainnya. Apalagi dizaman Sekarang
ini yang menjadi sorotan utama adalah Fenomena Seksual. inilah dampak
negatif pacaran yang paling vital karena selain azab akherat yang
sudah pasti menanti, tentunya didunia pun akan menjadi bahan
gunjingan, apalgi jika sampai terjadi kehamilan.

B. RUMUSAN MASALAH
   SALAHNYA ASUMSI:"PACARAN = SEKS BEBAS"1. Pengaruh Teknologidate sega­la. 

Kok bisa? Siapa lagi teladannya kalo bukan ngeliat dari tayangan di 

televisi. Atau baca di media cetak. Nggak repot kan?

Jadi, keberanian anak sekolah dalam mewujudkan cintanya secara 

berlebihan ter­nyata amat dipengaruhi juga oleh berkem­bangnya 

teknologi informasi. Komunikasi yang berkembang dalam kehidupan 

masyarakat kita melaju dengan cepat dan adakalanya mengalah­kan 

norma-norma yang berlaku

jadi jangan heran kalo pacaran dinobatkan sebagai cara untuk 

mewujudkan cinta yang paling efektif. Bahkan boleh jadi pacaran 

diyakini betul oleh sebagian besar remaja sebagai satu-satunya cara 

untuk mengekspresikan cintanya kepada lawan jenis,yang lebih

jika pacaran diidentiakn dengan seks bebas.

    2. Kurangnya Pengetahuan AgamaC. KENAPA ISLAM MELARANG PACARANelaki adl shaf 
terdepan  dan sejelek-jelek adlshaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adl shaf 
terakhir dan
sejelek-jelek adl shaf terdepan.”.
2. Khalwat yaitu berduaan lelaki dan wanita tanpa mahram. Padahal
Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلىَ النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ:
أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita.” Seorang lelaki dari
kalangan Anshar berkata: “Bagaimana pendapatmu dgn kerabat suami? ”
mk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Mereka adl kebinasaan.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ
 “Jangan sekali-kali salah seorang kalian berkhalwat dgn wanita
kecuali bersama mahram.
3. Berbagai bentuk perzinaan anggota tubuh yang disebutkan oleh
 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu:
 كُتِبَ عَلىَ ابْنِ آدَمَ
نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ: الْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ،
 وَاْلأُذُنَانِ زِنَاهُمَا اْلاِسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ،
 وَالْيَدُ زِنَاهُ الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهُ الْخُطَا،
 وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ

 “Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina,
 pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang,
 kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya
 adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang,
 kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan
 berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.
 Hadits ini menunjukkan bahwa memandang wanita yang tidak halal
 untuk dipandang meskipun tanpa syahwat adalah zina mata .
 Mendengar ucapan wanita (selain istri) dalam bentuk menikmati
 adalah zina telinga. Berbicara dengan wanita (selain istrinya)
 dalam bentuk menikmati atau menggoda dan merayunya adalah zina lisan.
 Menyentuh wanita yang tidak dihalalkan untuk disentuh baik dengan
 memegang atau yang lainnya adalah zina tangan. Mengayunkan langkah
 menuju wanita yang menarik hatinya atau menuju tempat perzinaan
 adalah zina kaki. Sementara kalbu berkeinginan dan
 mengangan-angankan wanita yang memikatnya, maka itulah zina kalbu.
 Kemudian boleh jadi kemaluannya mengikuti dengan melakukan perzinaan
 yang berarti kemaluannya telah membenarkan; atau dia selamat dari
 zina kemaluan yang berarti kemaluannya telah mendustakan.
 (Lihat Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin,
 pada syarah hadits no. 16 22)
 Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً

 “Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu
 adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra`: 32)
 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

 لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حِدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

 “Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk
 dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita
 yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dari
 Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani
 dalam Ash-Shahihah no. 226)
 Meskipun sentuhan itu hanya sebatas berjabat tangan maka tetap
 tidak boleh. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

 وَلاَ وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ غَيْرَ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ

 “Tidak. Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah
 Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh tangan wanita
(selain mahramnya), melainkan beliau membai’at mereka dengan ucapan
(tanpa jabat tangan).” (HR. Muslim)
 Demikian pula dengan pandangan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
berfirman dalam surat An-Nur ayat 31-30:

 قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ – إِلَى قَوْلِهِ تَعَلَى –
 وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ ...

 “Katakan (wahai Nabi) kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menjaga
 pandangan serta kemaluan mereka (dari halhal yang diharamkan)
 –hingga firman-Nya- Dan katakan pula kepada kaum mukminat, hendaklah
 mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka (dari hal-hal yang
 diharamkan)….”
 Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma,
 dia berkata:

 سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظْرِ الْفَجْأَةِ؟ فَقَالَ: اصْرِفْ بَصَرَكَ

 “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
 tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau
 bersabda: ‘Palingkan pandanganmu’.”
 Adapun suara dan ucapan wanita, pada asalnya bukanlah aurat yang
 terlarang. Namun tidak boleh bagi seorang wanita bersuara dan
 berbicara lebih dari tuntutan hajat (kebutuhan), dan tidak boleh
 melembutkan suara. Demikian juga dengan isi pembicaraan, tidak boleh
 berupa perkara-perkara yang membangkitkan syahwat dan mengundang
 fitnah. Karena bila demikian maka suara dan ucapannya menjadi aurat
 dan fitnah yang terlarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوْفًا

 “Maka janganlah kalian (para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
 sallam) berbicara dengan suara yang lembut, sehingga lelaki yang
 memiliki penyakit dalam kalbunya menjadi tergoda dan ucapkanlah
 perkataan yang ma’ruf (baik).” (Al-Ahzab: 32)”.
      keterangan-keterangan diatas adalah beerapa alasan islam
 melarang "pacaran".
D. ISLAM MEMBERI SOLUSIE. Penutup
(Annur ayat 31)
Dari kedua ayat diatas dapat kita simpulkan bahwa pacaran adalah
sebagian dari penyelewengan dalam pernikahan yang harus dihindari
karena untuk menikah tidak harus berpacaran.Islam tidak pernah
mengajarkan pacaran, karena selain berdosa, banyak efek negatif dari
pacaran. diantaranya
 1. Mudah terjerumus ke perzinaan

 Beberapa pelaku pacaran seringkali menyangkal tentang hal ini.
Kata mereka, asalkan bisa menjaga hati,InsyaAllah tidak terjadi
hal itu (waaah, perbuatan munkar kok pake InsyaAllah.
cobalah simak hadits ini:

“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti
mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya
mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa
(memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan)
dan hati yang berhazrat dan berharap.Semua itu dibenarkan(direalisasi)
oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).

 Padahal engkau tahu, yang namanya orang pacaran,
pasti ada hal-hal yang tidak dibenarkan dalam islam:
memandang lawan jenis, berpegangan tangan, berduaan di tempat sepi,
 berciuman, hingga….ah, tak usah disebutkan.
Bahkan meski pacarannya hanya sebatas lewat telpon,
 SMS atau chatting pun, hal tersebut sudah bisa memicu
terjadinya zina hati.
 Semua larangan-larangan tadi ada dalil shahihnya.
Sebagai contoh, simaklah hadits ini:

Rasulullah saw. berpesan “Janganlah engkau ikuti padangan
dengan padangan berikutnya, karena untukmu adalah padangan yang
pertama, sedangkan selanjutnya bukan untukmu.” (HR. Ahmad)
Dan hadits yang terkenal :”Barang siapa yang beriman kepada Allah
dan Hari Akhir,hendaklah tidak melakukan khalwat
dengan seorang wanita yang tidak disertai oleh mahramnya
karena sesungguhnya yang ketiga adalah setan.”
Tentang dampak negatif yang pertama ini tak perlu disangkal lagi.
Tak terhitung lagi jumlah pemuda muslim yang benar-benar terjerumus
dalam perzinaan—yang diawali dari aktivitas pacaran.
Kalau sudah berzina,berarti ia telah melakukan dosa besar
yang akan menyebabkan dampak-dampak buruk lainnya,
baik yang ia rasakan di dunia maupun di akhirat.

 2. Melemahkan Iman
 Orang yang pacaran cenderung meletakkan rasa cinta kepada kekasihnya
 di atas rasa cinta kepada Sang Pencipta. Tak perlu mengelak
ataupun mengiyakan, sebab pernyataan ini bisa dibuktikan
dengan kualitas ibadah seseorang. Jika kualitas ibadah seseorang
menurun setelah mengalami jatuh cinta, itu artinya porsi kecintaannya
kepada Allah berkurang.Ia jadi jarang ke Masjid, jarang membaca Al Quran,
meninggalkan shalat sunnah,bahkan beberapa hafalannya hilang,
serta banyak ibadah lain yang terlewatkan

 3. ‘melatih’ kemunafikan
 Orang yang berpacaran itu seringkali menipu,berusaha agar pasangannya
 yakin bahwa ialah yang terbaik. Memang tidak semua,tapi umumnya begitu.
 Ia akan menampakkan hal-hal yang baik di depan kekasihnya.
 Adapun hal-hal yang buruk sebagian besar ia sembunyikan.
 Sebagian orang ada yang sengaja menunjukkan beberapa keburukannya
 kepada kekasihnya sekedar untuk meraih simpati, mencari kesamaan,
 mendapatkan pemakluman, atau sebagai bumbu-bumbu romantisme belaka.
 Namun tidak jarang orang yang berpacaran mengatakan sesuatu
 yang sebenarnya bertentangan dengan hati kecilnya.

 4. Menjadikan panjang angan-angan.
 Orang yang sedang jatuh cinta—pacaran—seringkali teringat dengan
 orang yang dicintainya itu. Lalu ia memikirkan sesuatu,berandai-andai
 setiap waktu—tentang apa yang akan dilakukan nanti saat bertemu,
 tentang apa yang akan diberikan saat itu, tentang kata-kata yang akan
 diucapkan sebagai bumbu,dan masih banyak lagi.Padahal ummat Islam
 dilarang berpanjang angan-angan.

 5. Mengurangi produktivitas
  Jika tidak pacaran, seorang siswa tentunya bisa melakukan aktivitas
  lain yang lebih produktif; misal membuat karya seni, menulis artikel
  cerpen, puisi, karya tulis, mengerjakan PR, atau yang lainnya.
  Namun seringkali produktivitasnya turun lantaran ia berpacaran.
 6. Menjadikan hidup boros
  orang yang pacaran akan selalu berkorban untuk pacarnya.Bahkan uang
  yang seharusnya untuk ditabung bisa habis untuk bersenang-senang:
  mem
     
Ketika jaman berubah.Teknologi in­formasi makin mudah diakses,
maka dimulailah babak baru perubahan gaya hidup masyarakat.
Siaran radio masuk, televisi swasta banyak didirikan. Koran, tabloid,
dan majalah muncul dan dicetak ribuan eksemplar. Semuanya berlomba
menggaet iklan sebanyak mungkin. Maka jangan kaget kalo para
konglomerat media massa, khususnya televisi jor-joran bikin tayangan
unggulan. Tujuan mulianya,tentu saja untuk menggenjot pendapat­an usaha
nya. Tapi celakanya, mereka nggak peduli lagi apakah program acaranya
bakalan merusak ataukah tidak bagi pemirsanya.Prinsip kapitalisme
me­ng­ajarkan: “Asal ada manfaat di sana yang berupa materi, kejar!”
Jadi, yang penting bisa mendatangkan rejeki nomplok. Habis perkara.
    Saat ini, jangankan anak SMP, anak SD aja udah banyak yang berani 

untuk ngede­ketin lawan jenis. Bahkan pake acara nge-

Masa remaja adalah masa yang rentan terpengaruh oleh lingkungan 

sekitar. termasuk dalam hal pacaran, seseorang akan termotivasi 

untuk berpacaran jika melihat temannya pacaran.maka dari itu

peran sosok spritual agama sangat diperlukan untuk memmberiakn bimbi-

ngan kepada para remaja akn bahayanya pacaran.


Kenapa sih,…kok islam melarang pacaran?? Begitu keluhan fulanah.
Buat Fulanah ia melihat ada sisi positif yang bisa diambil dari
pacaran ini. Pacaran atau menurutnya ‘penjajakan’ antara dua insan
lain jenis sebelum menikah sangat penting agar masing-masing fihak
dapat mengetahui karakter satu sama lainnya (dan biasanya untuk
memahami karakter pasangannya ada yang bertahun-tahun berpacaran lho!
Fulanah menambahkan ,”Jadi dengan berpacaran kita akan lebih banyak
belajar dan tahu, tanpa pacaran ?? Ibarat membeli kucing dalam karung!
Enggak deh…!” kemudian ia menambahkan “Bila suka dan serius bisa
diteruskan ke pelaminan bila tidak ya,..cukup sampai disini..bay-bay,
Mudahkan?”…hmm…Fulanah tidakkah engkau melihat dampak buruk dari
berpacaran ini, ketika masing-masing fihak memutuskan berpisah??...
Fulanah apakah engkau yakin benar apabila “putus dari pacaran”
hati ini tidak sakit? Benarkah hati ini bisa melupakan bekas-bekas
dari pacaran itu? Tidakkah hati ini kecewa, pedih, atau ikut menangis
bersama butiran air mata yang menetes?? Sulit dibayangkan!Karena
memang begitulah yang saya lihat didepan mata menyaksikan orang yang
baru saja putus pacaran..Firman ALLAH
لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ عَلَى لِسَانِ
 دَاوُدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُوْنَ.
 كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوْهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُوْنَ

“Telah terlaknat orang2 kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan
Nabi ‘Isa bin Maryam. Hal itu dikarenakan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Adalah 
mereka tdk saling melarang dari kemungkaran yg mereka lakukan. Sangatlah jelek apa yg 
mereka lakukan.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ،
 فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguh dunia itu manis dan hijau dan Allah Subhanahu wa Ta’ala
menjadikan kalian sebagai khalifah di atas kemudian Allah Subhanahu
wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. mk berhati-hatilah kalian
terhadap dunia dan wanita krn sesungguh awal fitnah Bani Israil dari
kaum wanita.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umat
utk berhati-hati dari fitnah wanita dgn sabda beliau:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلىَ الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yg lbh berbahaya
terhadap kaum lelaki dari fitnah wanita.”
Maka pacaran berarti menjerumuskan diri dlm fitnah yg menghancurkan
dan menghinakan padahal semesti tiap orang memelihara dan menjauhkan
diri darinya. Hal itu krn dlm pacaran terdapat berbagai kemungkaran
dan pelanggaran syariat sebagai berikut:
1. Ikhtilath yaitu bercampur baur antara lelaki dan wanita yg bukan
mahram. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan
 umat dari ikhtilath sekalipun dlm pelaksanaan shalat. Kaum wanita
yg hadir pada shalat berjamaah di Masjid Nabawi ditempatkan di bagian
 belakang masjid. Dan seusai shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam berdiam sejenak tdk bergeser dari tempat agar kaum lelaki
 tetap di tempat dan tdk beranjak meninggalkan masjid utk memberi
kesempatan jamaah wanita meninggalkan masjid terlebih dahulu sehingga
 tdk berpapasan dgn jamaah lelaki. Hal ini ditunjukkan oleh hadits
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dlm Shahih Al-Bukhari. Begitu pula
pada hari Ied kaum wanita disunnahkan utk keluar ke mushalla
menghadiri shalat Ied namun mereka ditempatkan di mushalla bagian
belakang jauh dari shaf kaum lelaki. Sehingga ketika Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam usai menyampaikan khutbah beliau perlu
 mendatangi shaf mereka utk memberikan khutbah khusus krn mereka tdk
mendengar khutbah tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Jabir
radhiyallahu ‘anhu dlm Shahih Muslim.
Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرِهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
 “Sebaik-baik shaf l
  Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin, sehingga dalm
 setiap masalah tentu memberi solusi bagi permasalahan tersebut
 yaitu diantaranya :
 1. Hendaknya bagi lembaga pendidikan,khususnya lembaga yang berlebel
    Agama seperti : MI,MTs,MA .memberikan contoh terhadapa sekolah
    lain dengan dengan membuat kelas khusus. yaitu antara putra
    dan putir terpisah.
 2. memberikan pemahaman tentang arti pacaran menurut agama
 3. mengadakan seminar atau penyuluhan2 tentang bahayanya "Pacaran"
 4. memberikan pemahaman tentang arti ta'aruf sebagai solusi
    sebagi solusi pengganti pacaran.
 5. dan masih banyak lagi solusi lainnya agar budaya pacarn itu
    hilang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar